Minggu, 09 Agustus 2009
aku online...online...
Padahal face masih ngantukk….”
Hahaha..istri tercinta ketawa geli ndenger lirik saykoji itu…
“ih..kamu banget tuuh!”, saya senyum kuda aja disindir begitu.
Yap, sekarang lagu anak-anak tempo dulu yang bilang kalo bangun pagi itu lalu mandi dan gosok gigi udah gak relevan lagi…karena abis bangun itu yang bener cek status FB.
Sebagai pemasar, tantangan terbesar adalah memahami perilaku dan karakter konsumen. Karena kalau kita dapat memahami betul konsumen, istilah kerennya “walking in consumer shoes”, semuanya jadi mudah. Nah, dalam hal memahami perilaku masyarakat, selain belajar dari para ahli riset perilaku konsumen, sepertinya pemasar boleh juga belajar pada seniman2 muda macamn saykoji. Atau lebih gampang lagi pasang telinga saja, dengar apa kata mereka tentang perilaku lingkungannya.
Buat pemasar pasta gigi, jangan bikin iklan klasik bangun tidur ngeloyor ke wastafel.
Buat manager band, gak usah ngoyo bikin album, toh semua lagu bakal diunduh gratisan diinternet (selain banyak cd mp3 gocengan isi sepuluh album).
Buat iklan dengan setting suasana kantoran, jangan bikin drama klise karyawannya pada kerja serius ngetik surat kontrak atau gambar grafik di layar PC, lebih terasa realistis kalau karyawannya lagi YM-an…
Mau inspirasi lebih lengkap..ini lirik full-nya..
Reff:
siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line
Verse 1:
tidur telat bangun pagi pagi
nyalain komputer online lagi
bukan mau ngetik kerjaan
e-mail tugas diserahkan
tapi malah buka facebook
padahal face masih ngantuk
beler kayak orang mabuk
pala naik turun ngangguk-ngangguk
sambil ngedownload empitri
colok i pod usb kiri
ngecekin postingan forum
apa ada balesannye? belum
biar belum sikat gigi belum mandi
tapi kalo belum on line paling anti
liat friendster myspace, youtube
me and him, everybody you too
siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line
jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku on line online
on line on line
Verse 2:
nah udah mandi siap berangkat
langsung cabut takut terlambat
tak lupa flash disk gantung di leher
malah lupa sepatu jadi nyeker
flashdisk isinya bokep atau lagu
kalau ada kerjaanpun gue ragu
kalo emang berani coba pada ngaku
cek isi foldernya satu satu
di kantor online pakai proxy
walau diblok server bisa dilolosi
namanya udah ketagihan internet
produktifitaspun kepepet
jam kerja malah chatting ym
ngobrol online sama ehehem
atasan lewat langsung klik data
pura pura kerja di depan mata
siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line
jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku on line online
on line on line
bridge:
makan siangpun aku cari sinyal wifi
mengapa ku kecanduan oh why why
kadang terasa bagai tak berdaya
ingin ku berubah.. eh ada e-mail dah dulu ya
Verse 3:
cek e-mail spam semua
email benerannya cuma dua
yang satu email lama
yang satu forwardan yang sama
ngarep komentar buka friendster
loading, gue tinggal beser
pas balik ngecek komputer kok lagi maintenance server
ya udah download lagu
bajakan gratis gak pake ragu
saykoji satu album
setengah jam bisa rampung
sore sore bosen hambar
ide nakal cari cari gambar
download video dengan sabar
ketahuan pacar digampar
siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line
jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku on line online
on line on line
Minggu, 31 Mei 2009
RS Omni International versus Prita, siapa yang menang sungguhan?
Hati-hati jika anda menulis keluhan latas layanan yang buruk lewat milis, alih-alih mendapatkan kompensasi atas pengalaman buruk yang Anda terima, malah tuntutan hukum yang akan memperburuk kehidupan Anda. Seperti yang tengah dialami oleh Prita, seorang konsumen RS.OMNI Internasional (selanjutnya kita sebut saja OMNI) yang mengeluhkan layanan buruk dari rumah sakit tersebut lewat milis. Dalam email-nya Prita menyebut OMNI telah melakukan penipuan atas dirinya. OMNI-pun bereaksi keras mempidanakan Prita dengan pasal karet “Mencemarkan nama baik”.
Pembelaan atas Prita sudah banyak dilontarkan oleh para aktifis web 2.0 maupun media massa. Mereka menyebut penahanan atas Prita merupakan teror atas hak konsumen, dan sesungguhnya OMNI telah mendapatkan ruang yang setara untuk melakukan klarifikasi atau hak jawab atas tuduhan Prita. Jadi tidak perlulah bagi saya untuk menambahkan argumentasi bahwa Prita tidak seharusnya dipenjara, tulisan ini justru ingin menelaah apakah OMNI akan betul-betul menang?, dengan menyoroti cara OMNI menghadapi consumer generated media dalam kacamata Marketing PR.
Consumer generated media marak dibincangkan semenjak teknologi web 2.0 berkembang dan memberi ruang bagi konsumen untuk menciptakan medianya sendiri serta membentuk komunitas tanpa batas. Ditengah semakin jenuhnya media massa konvensional seperti TV dan koran, konsumen menemukan tempat baru memperoleh informasi yang dipersepsikan lebih independen dan terpercaya dalam ruang milis, blog, hingga facebook. Lebih independen karena diciptakan oleh mereka dan untuk mereka, lebih terpercaya karena informasi yang datang berasal dari sesama konsumen. Anda tentu paham bahwa rekomendasi lewat mulut ke mulut (word of mouth) lebih mengena ketimbang iklan berbudget milyaran buatan produsen. Namun, selayaknya pisau bermata dua, munculnya consumer generated media bisa menjadi ancaman sekaligus peluang bagi produsen. Menjadi ancaman karena produsen tidak memiliki kontrol atas informasi yang berkembang, menjadi peluang karena ruang virtual ini memberi kesempatan pada produsen untuk bergabung dan menciptakan dialog dengan konsumen maupun prospek konsumen , peluang yang hampir mustahil dilakukan lewat media konvensional.
Sayangnya, informasi yang tidak terkontrol tersebut, pada kasus Prita versus Omni, adalah informasi negatif. Sama dengan yang terjadi pada media konvensional, hukum bad news is a good news berlaku pula. Kisah negatif menyebar lebih cepat dan direspon lebih antusias oleh publik. Nah, kematangan mental manajemen OMNI dalam menghadapi rimba informasi web 2.0 dibutuhkan. Objektifnya tentu mengelola informasi yang berkembang untuk memulihkan citra negatif yang terbentuk. Media modern ini memungkinkan manajemen OMNI untuk berdialog langsung dengan konsumen, memberikan penjelasan dan mungkin sekadar meminta maaf, kadang kala hanya kata maaf yang ingin didengar oleh konsumen yang kecewa. Memang membutuhkan kesabaran untuk melayani seluruh dialog yang terjadi, namun itulah harga dari kemewahan peluang berdialog yang dulu tidak pernah ada.
Tampaknya kesulitan mengelola informasi yang berkembang membuat manajemen OMNI tertekan dan meluapkan amarah dengan melakukan tuntutan hukum. Mungkin saja manajemen akan menang di pengadilan, dan kenyataannya Prita kini mendekam dalam tahanan sementara. Tapi apakah objektif sebenarnya yaitu memulihkan citra positif dapat tercapai dengan menjebloskan Prita ke dalam penjara?. Tampaknya tidak, yang terjadi justru berkembang kehebohan informasi baru seperti OMNI meneror dan menindas konsumen yang kecewa, rumah sakit OMNI bukan menyembuhkan pasien malah memenjarakan pasien, dan tentu mencetuskan solidaritas sesama penggiat web 2.0. Dan sekali lagi bad news is a good news, berita negatif seperti ini beredar dan direspon dengan sangat antusias oleh publik. Jadi jelas OMNI tidak memutihkan namanya yang tercemar dengan memenjarakan Prita, malah sebalikanya membuat informasi yang berkembang semakin tidak terkendali , dan semakin memperburuk citra OMNI. Sepertinya pepatah lama cocok untuk menggambarkan situasi ini: “Kalah jadi arang, Menang jadi abu”.
Jumat, 29 Mei 2009
play boy marketing operator seluler: "merayu istri tetangga lupa istri sendiri"
Eits, ini bukan curahan hati saya sebagai suami lho sayang (takut istri mbaca tulisan ini....piss), tapi gambaran sejati perasaan saya sebagai “istri tua” dari operator telpon seluler yang sudah saya gunakan sejak pertama kali mengenal yang namanya SMS-an. Saya kok merasa sebagai istri sudah tidak menarik lagi di hati suami, habisnya jarang diberi kejutan bunga warna-warni atau kecupan mesra di pagi hari. Sudah jarang dirayu cumbu mesra, eh cuma dikasih surat tagihan tanpa sentuhan kasih sayang setiap bulan.
Tapi yang bikin sakit hati, suami gencar sekali tanpa malu-malu mengobarkan gelora bujukan dan rayuan pada istri-istri tetangga. Di pinggir jalan, di televisi, radio, spanduk penutup warteg, poster di tiang-tiang pancang, wah pokoknya di mana-mana...tidak peduli tempat, merayu istri tetangga. Tebar pesona...ntah wanita mana yang sebenarnya dia goda, gayanya bak menebar jala: masak tidak ada yang nyangkut. Ya jurus mautnya sebenarnya Cuma satu: BELAGAK MURAH*. Meski ada juga sih yang BELAGAK BAIK....tapi tetap juga ujungnya belagak murah. Basi deh loe....
Heran, padahal kalaupun ada istri-istri tetangga yang nyangkut, semuanya perempuan petualang cinta yang tidak setia. Cuma cari sensasi murahan sesaat – saya menyebut sensasi murahan karena sensasinya berujung pada kata murah, misalnya sms murah atau nelpn murah. Tambatan hati mereka tetap pada suami lama mereka, maklum suami lama walau nyebelin tapi susah ditinggal pergi. Biaya pengumuman ganti suami keseluruh kolega dan keluarga terlalu mahal. Malah kadang bisa kehilangan order job gara-gara ganti suami terus lupa sebar pengumuman.
Saya sebagai istri awalnya setia saja dan cuek dengan godaan pria lain, tapi akhirnya saya pun ikut-ikutan binal. Untuk cari kesenangan lewat chatting dan mobile Internet saya jatuh kepelukan GSM lain untuk dapat sensasi gprs murah. Untuk bisa dapat sensasi ngobrol murah, saya pun rebah di dada operator CDMA. Dan suami tua saya? biarlah dia cukup aku andalkan untuk menerima berita dari luar.
Tapi sebenarnya dari lubuk hati terdalam, aku ingin lebih diperhatikan oleh suami. Diberi bonus-bonus, diberi kejutan ulang tahun, dirayu didepan umum, sehingga aku Bangga sebagai istri. Tapi kapan para suami akan sadar dan berhenti mengejar istri tetangga?
August “Gugi” Anwar
* syarat dan ketentuan berlaku